Friday, July 20, 2018

Derita Lisa Brown, Selamanya Kelaparan karena Sindrom Pencernaan Langka

Derita Lisa Brown, Selamanya Kelaparan karena Sindrom Pencernaan Langka - Lisa Brown tidak alami masalah makan seperti anoreksia ataupun bulimia. Tetapi wanita berumur 32 tahun ini tetap kelaparan. Beratnya turun mencolok, dari 63 kg berubah menjadi kurang dari 40 kg dalam lima tahun serta tubuhnya juga begitu kurus sampai terlihat cuma tulang belulang. 

Derita Lisa Brown, Selamanya Kelaparan karena Sindrom Pencernaan Langka

Lisa bukannya tidak ingin makan, tetapi ia menderita sindrom langka yang membuat tubuhnya tidak ingin mengolah makanan. Mengakibatkan wanita asal Wisconsin, Amerika Serikat ini terasa selalu kelaparan. 

Penyakit yang diidap Lisa dimaksud superior mesenteric artery syndrome (SMAS), keadaan yang membuat sebagian usus kecilnya terjebak diantara dua pembuluh arteri. Mengakibatkan, makanan tidak dapat melalui system pencernaan serta tubuhnya dengan baik. 

Lima tahun telah Lisa berjuang mencari jalan keluar untuk menangani penyakitnya itu. Ia juga share kisahnya melalui YouTube yang bercerita bagaimanakah upayanya hadapi SMAS dengan keinginan dapat mendapat dana penyembuhan serta tingkatkan kewaspadaan pada sindrom langka itu. 

Sekarang ini Lisa tengah melakukan perawatan di The Cleveland Clinic. Perawatan itu memakai suatu system mutakhir yang sangat mungkin nutrisi-nutrisi yang terpenting buat badan dialirkan secara langsung ke usus kecilnya lewat perut. Keluarga Lisa juga gencar mencari donasi melalui website amal GoFundMe untuk membiayai pengobatannya yang mahal itu. 

Sekarang ini uang yang sukses terkumpul sampai lebih dari USD 12. 000 (seputar Rp 161 juta) dari keseluruhan cost USD 50. 000 (Rp 673 juta). Seperti apa SMAS yang membuat Lisa kelaparan selama hidupnya? 

Sindrom Langka 
Menurut kronis pakar, masalah Lisa termasuk langka tetapi dapat berlangsung serta sayangnya, susah terdiagnosa. Tanda-tanda SMAS cukuplah kompleks dari mulai mual, muntah, perut merasa kenyang terlalu berlebih, sakit perut serta kembung yang dapat dibarengi oleh pertanda yang lain yang tidak menentu. 

“Gejalanya begitu tidak khusus serta tidak umum. Memang perlu satu tahun lebih untuk mendiagnosa penyakit yang terkena pasien serta merawatnya dengan cara pas supaya akhirnya baik, ” tutur Gabriel Pivawer, dokter osteopati serta radiologist di JFK Medical Center, seperti diambil dari Women’s Health. 

Pemicu SMAS dapat dipicu oleh penurunan berat tubuh yang mencolok atau berlangsung trauma pada perut. Diterangkan Truptesh Kothari, M. D., dokter kesehatan pencernaan, pasien skoliosis atau yang feature tubuhnya begitu kurus juga berisiko terserang SMAS. Bila tidak selekasnya diatasi serta dilewatkan kelamaan, pasien dapat kehilangan nyawa. 

“Penyakit serta keadaan malnutrisi ini sudah mengakibatkan kerusakan tubuhku. Saya tidak takut mati karena tidak ada kata itu dalam kamusku, sekurang-kurangnya untuk sekarang ini, ” tutur Lisa pada NewsNet5, yang tetap akan berjuang sedapatnya untuk pulih dari penyakitnya. 

Perawatan SMAS 
Ada dua cara untuk menangani SMAS. Pertama merupakan lewat endoskopi, yakni memberikan makanan melalui tuba yang dimasukkan melalui hidung ke usus sampai batas di mana berlangsung penyempitan usus halus itu. Sesudah enam bulan, pasien akan mulai naik berat badannya, membuat ‘ruang’ yang dibuat oleh lemak hingga desakan pada usus menyusut. 

Langkah ke-2 yaitu dengan pembedahan untuk melakukan perbaikan penyempitan pada usus kecil. Walau langka serta susah terdeteksi, Truptesh mengatakan jika SMAS merupakan penyakit yang dapat sembuh.

No comments:

Post a Comment